PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang masalah
Anak adalah suatua anugrah dari allah swt yang patut kita syukuri keberadaannya karena tidak sedikit orang yang ingin mempunyai seorang anak mengeluarkan uang sampai berjuta-juta, dan tidak sedikit pula keluarga yang tidak harmonis dikarenakan tidak mempunyai anak. Lantas apakah mempunyai anak itu menyenangkan?
Sering kali kita mendengar komentar seperti ini” uhh ..cape banget ngurus anak satu ini, nakal , suka jajan , suka melawan sama orang tua, suka bikin onar…”, setiap ortu yang dijumpai kebanyakan mengeluh tentang tingkah anaknya. Cuma sedikit yang bilang ” anak saya mah nurut ma orang tua klo di suruh mau, ga suka jajan, ga rewel, rajin , ga suka keluyuran .... BAB I
Ternyata perbedaannya adalah dari cara bagai mana mendidik anak di mulai dari dia bernapas, jangan dikira bayi tidak belajar ,mereka belajar dengan apa yang didengarnya, dilihat, diraba dan dirasa, justru pada usia kurang dari lima tahun daya rekam anak sangat bagus karena pada masa ini adalah masa usia emas. Dengan mendidik anak sejak usia dini akan meminimalkan permasalahan yang akan terjadi di kemudian hari. Tidak sedikit masalah yang ditimbulkan ketika orang tua lengah terhadap perkembangan anak, seperti terjadi baru-baru ini anak usia kurang dari tiga tahun sudah pandai merokok layaknya orang dewasa,anak laki-laki disodomi, mencuri, yang paling mengerikan membunuh orangtuanya sendiri “nauzubilahimindzalik” atas keprihatinan tersebut penulis ingin skali sama-sama belajar membahas permasalahan yang sedang terjadi didepan mata. Dengan belajar dari sumber permasalahan tersebut diharapkan kita lebih bijak dalam mengambil tindakan penyelesaian terhadap permasalahan dan perkembangan anak remaja saat ini.
1.2. Perumusan masalah
Setiap anak pasti mempunyai masalah yang beragam dan peranserta orang tua disini sangat penting dan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yaitu dalambeberapa hal:
1. Membantu anak tumbuh dewasa
2. Jangan biarkan amarah itu ada
3. Remaja depresi
4. Menangani anak yang sering “jahil”
5. Pengaruh pelayanan terbaik bagi anak
1.3. Tujuan penelitian
Khususnya supaya penulis lebih memahami permasalahan dan perkembangan yang di alami anak, saat ini dengan memahami kondisi mereka kita tau apa yang harus kita upayakan untuk mereka tanpa melanggar batasan-batasan yang mereka punya.
Hanya mengharapkan, tanpa mau mendukung, atau mengusahakan dengan sungguh-sungguh adalah sesuatu yang sulit dicapai. Seperti yang terjadi pada sebagian orangtua. Mereka pada umumnya hanya mengharapkan anak mereka tumbuh dengan cerdas tanpa mau mendukung dan mengusahakan supaya anak tersebut mampu meraih harapan tersebut.hal seperti itu tentu akan sulit terealisasikan apalagi jika ditambah dengan sikap orang tua yang selalu membanding-bandingkan antara anak mereka dengan anak orang lain yang lebih baik tingkat kecerdasannya
Semoga dengan adanya karya ilmiah ini penulis berharap bisa menjadi bagian dari upaya bersama meminimalkan terjadinya salah asuh karena ketidak pahaman kita selaku orang tua atas apa yang anak alami saat ini.
Saat ini generasi muda khususnya remaja, telah digembleng berbagai disiplin ilmu. Hal itu tak lain adalah persiapan mengembangan tugas pembangungan pada masa yang akan datang, masa penyerahan tanggung jawab dari generasi tua ke generasi muda. Sudah banyak generasi muda yang menyadari peranan dan tanggung jawabnya terhadap negara di masa yang akan datang. Tetapi, dibalik semua itu ada sebagian generasi muda yang kurang menyadari tanggung jawabnya sebagai generasi penerus bangsa.
Disatu pihak remaja berusaha berlomba2 dan bersaing dalam menimba ilmu, tetapi dilain pihak remaja berusaha menghancurkan nilai2 moralnya sebagai manusia. Hal ini sangat memprihatinkan bagi kita semua. Memang tingkah laku mereka hanyalah merupakan masalah kenakalan remaja, tetapu lama-kelamaan menuju suatu tindakan kriminalitas yang sangat meresahkan.
1.3. Metode penelitian
Pada penulisan karya ilmiah ini penulis menggunakan beberapa metode, penelitian diantaranya, mengambil reperensi dari beberapa buku,dan media elektronik yang lebih mudah untuk mencari info mengenai penelitian yang sedang penulis susun, selain itu penulis juga melakukan wawancara dengan beberapa nara sumber yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam makalah ini. Terlepas dari benar dansalahnya penulis serahkan pada pembaca. Karena belajar bagi penulis adalah yang utama. Saran dan masukan sangat penulis hargai dan harapkan.
BAB II
KAJIAN TEORI
Anak adalah anugrah tuhan yang terindah tapi keindahan itu akan pudar jika kita tidak pandai menjaganya, begitu pula hal nya seorang anak jika kita tidak pandai mendidik mengarahkan maka anak akan menjadi bumerang buat orang tuanya. Seorang anak akan tumbuh dewasa, dalam proses ini anak membutuhkan sesosok figure teladan. Karena dasar pendidikan anak adalah dari rumah dan dengan orang terdekatnya
2.1. ANAK ADALAH TITIPAN
Jika kita dititipi sesuatu oleh teman kita, selayaknya kita menjaga dan merawatnya dengan sebaik- baiknya karena itu adalah amanah. Dan anak adalah titipan Allah yang harus kita jaga, kita didik dan kita penuhi segala kebutuhan yang di perlukan, tentu disesuaikan dengan usianya. Contoh: anak bayi kebutuhannya akan gizi yang baik, meningkat usia sekolah kober kebutuhannya perlengkapan sekolah dan bimbingan orang tua, pada usia ini kenakalan tidak jauh dari masih suka ngompol, jajan apa aja yang di lihat, beli mainan, masih suka main yang kotor-kotor. Sedang anak SD Mulai suka main dengan teman tanpa di damping orang tua, usia SMP, SMA Mulai jauh dari orang tua karena pada masa ini masa puber masa dimana peralihan dari anak-anak menginjak dewasa, dimana rasa penasaran mereka sangat tinggi, ingin mencoba segala hal, Dan orang tua di tuntut ekstra hati-hati saat anak mengalami masa tersebut. Karena kalau anak lengah dari pengawasan kita, mereka akan mencob yang namanya pil koplo, nindik wajah,bergaya ala idolanya,pergaulan bebas, sex bebas, naudzubillah. Jagalah titipan dari Allah dengan sebaik-baiknya.
2.2. SOLUSI SESUAI USIA
Adanya permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Tinggal bagaimana kita selaku orang tua bijak, bijak pula dalam menyelesaikan masalah, artinya bijak disini tidak berdampak buruk terhadap anak. Karena anak di ibaratkan sebuah besi kalau terlalu keras memukulnya maka menjadi patahlah ia.
Anak usia di bawah lima tahun saat dimana melakukan aktifitas masih perlu dibantu oleh orang lain baik itu orang tuanya saudaranya pengasuhnya. Tanpa bantuan orang terdekatnya anak usia ini tidak akan mampu melakukan sesuatu contohnya bikin susu, mo pipis, mo makan.
Usia anak SD mereka Mulai mencari jatidiri dan pengakuan tentang keberadaan diri terhadap lingkungannya, solusi yang tepat dampingi anak karena pada masa ini mereka butuh teman untuk berbagi keluh kesah dan bercerita tentang teman-temannya. Sedang usia 12 tahun ke atas mereka banyak mencoba segala hal, kenapa? Karena pada masa itu bisa disebut masa puber atau masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa dan masa ini sangat rentan apabila anak tersebut salah memilih teman, salah bergaul kurang bimbingan ortu, karena kebanyakan orang tua sibuk dengan masalah mereka sendiri dan anak terabaikan, sehingga terjadi sesuatu yang tak di inginkan seperti kenakalan remaja lainnya, solusinya, sebenarnya tidak jauh dari peranserta orang tua yang sangat dibutuhkan anak adalah perhatian sehingga tidak perlu mencari perhatian di luar. dan anak merasa nyaman dengan orang tuanya. Orang tua harus bisa menjadi teman dan sahabat bagi anaknya sehingga kita tau apa saja kebutuhan anak, apa yang menjadi masalahnya. Dan akan muncul keterikatan lahir batin orang tua dengan anak.
BAB III
PEMBAHASAN
Pola asuh anak sejak usia dini sangat menentukan baik buruknya perilaku anak di kemudian hari. Untuk itu diperlukan upaya intensif dalam penanganan berbagai permasalahan anak usia dini.
3.1. Membantu Anak Tumbuh 'Dewasa'
Kenapa sih anak ini, semakin besar malah semakin suka melawan orangtua, bukannya semakin dewasa? Itulah salah satu kalimat yang sering dilontarkan orangtua kepada anak remajanya. Anak yang baru menginjak usia remaja, biasanya ingin selalu menunjukkan bahwa dirinya sudah dewasa. Ia cenderung tidak mau lagi diatur oleh orangtuanya.dan selalu igin membuat keputusan sendiri. Contohnya, ia tetap memutuskan pergi ke rumah temannya walaupun orangtua melarangnya.
Tindakan perlawanan anak seperti di atas, sebaiknya tidak langsung ditanggapi orangtua dengan sikap negatif (marah). Berikanlah pengertian dan dukungan kepada anak dengan memuji tindakannya yang memang mencerminkan kedewasaan (bertanggung jawab dan menepati janji). Misalnya untuk kasus di atas, ia melawan perkataan orangtua karena ia ingin bertanggung jawab, atau ia ingin menepati janji yang telah disepakati dengan temannya. Perilaku penyimpangan dan perlawanan anak remaja merupakan salah satu ekspresi karena ia ingin membuktikan bahwa ia telah mandiri atau dewasa
Jika orangtua tidak berusaha untuk memahami maksud dari ‘perlawanan’ anak tersebut, karena tidak terjalin komunikasi yang baik maka akan terjadi sebuah perselisihan yang mungkin berakhir dengan perasaan yang terluka satu sama lain. Keduanya saling menyalahkan menganggap tidak pengertian. Orangtua menganggap anaknya sudah tidak patuh. Begitu juga anak, boleh jadi ia mengaggap orangtuanya selalu mengatur atau ikut campur urusannya.
Untuk menjadi orang dewasa bukanlah proses yang mudah, tetapi juga bukan hal yang sangat sulit. Butuh dukungan yang harus diikuti dengan proses pembelajaran. Menurut Jacob Azerrad (2005) mengajarkan anak supaya mampu berperilaku mandiri dan dewasa adalah dengan cara mengajarkan anak bagaimana sebaiknya ia berperilaku di dunia luar. Hal tersebut adalah supaya anak mampu menghadapi berbagai masalah dan tantangan yang mungkin terjadi dalam kehidupannya. Selain itu, anak juga perlu diajarkan supaya tidak mudah dipengaruhi orang lain, karena ia memiliki nilai-nilai dalam dirinya yang kuat, yang menjaga perilakunya, dan membantunya dalam membuat keputusan sendiri. Para orangtua harus mengajarkan kepada anak dan memperaktekannya dalam kehidupan sehari-hari bagaimana berperilaku dewasa, dan mandiri, tidak bergantung, peduli, dan bertanggung jawab. Dengan pembekalan tersebut, diharapkan anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan diharapkan banyak orang.
3.2. Amarah Anak
Ketika kemarahan itu terjadi, orangtua dan remaja biasanya akan saling menyalahkan. Orangtua marah kepada remaja ketika ia melakukan atau mengatakan sesuatu yang dianggap orangtua sebagai perilaku yang tidak bertanggung jawab. Begitupun sebaliknya, remaja marah kepada orangtua saat perilaku orangtua diangggap tidak adil atau mementingkan diri sendiri.
Sebagai orangtua, kita perlu belajar untuk mampu mengendalikan amarah. Jika kita tidak dapat mengendalikan amarah, usaha orangtua dalam melakukan pendampingan terhadap anak akan menjadi rusak. Seorang remaja yang sering menerima perlakuan kasar dari orangtua (marah), akan semakin sulit untuk mengingat lagi kebaikan, cinta, kasih sayang, dan pelayanan yang diberikan orangtua kepadanya, terutama ketika ia masih kecil. Pada umumnya, tidak banyak hal yang dapat diingat anak ketika ia kecil. Sebaliknya, anak yang sudah menginjak remaja biasanya akan merekam jelas segala tindakan yang dilakukan orangtua kepadanya. Jika orangtua sering marah dan bertindak tidak baik dalam bersikap maupun berucap kata, semua tindakan tersebut akan melekat di dalam pikirannya. Hal seperti itu tidak baik untuk pertumbuhan emosionalnya.
Hindarilah terjadi pertengkaran dengan remaja. Berikan arahan dan pengertian kepadanya melalui jalinan komunikasi yang lebih baik lagi. Ketika komunikasi terjalin dengan baik, akan lebih mudah untuk menjadi ‘sehati’.
Menurut Gary Chapman (2007) ada beberapa hal penting dapat orangtua lakukan supaya terrhindar dari amarah:
1. Mengakui Kebenaran
2. Mengembangkan Strategi
3. Menganalisa Amarah dan Memperhatikan Opsi-opsi
4. Ajak Anggota Keluarga dalam Percakapan
Sebagai orangtua, marilah sama-sama untuk belajar mengendalikan amarah. Keliru dalam mengendalikan amarah, akan mengakibatkan efek negative (benci, dendam, sakit hati) kepada orangtua juga anak. Amarah dapat menjadi penyebab di balik retaknya hubungan antara orangtua dan remaja.
3.3. Remaja Depresi
Karier, jabatan, pangkat merupakan sesuatu yang sering dikejar oleh banyak orang. Bukan saja merupakan dambaan kaum laki-laki sebagai seorang kepala rumah tangga, tetapi juga banyak kaum wanita (ibu) yang mendambakan untuk mencapai karir sesuai yang diharapkan.
Sebagai salah satu konsekuensi pencapaian karir tersebut, dibutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit. Hal demikian sering membuat kesempatan untuk 'lebih dekat' dengan anak menjadi semakin berkurang. Kurangnya komunikasi dan memberikan perhatian kepada anak membuat anak menjadi merasa sepi dan hampa. Antara orangtua dan anak tidak terjalin ikatan batin. Tidak ada waktu untuk saling berbagi perasaan.
Apabila kondisi seperti di atas dibiarkan berlarut-larut, khawatir akan terjadi sebuah penyakit yang dinakan depresi pada anak. Frederic Luskin (2004) menyatakan bahwa depresi merupakan suatu penyakit yang menyebabkan perasaah sedih, hampa, dan putus asa dalam kurun waktu yang lama sehingga mengganggu fungsi kemampuan anak-anak atau remaja.
Ada beberapa ciri yang dapat kita lihat pada anak yang mengalami depresi diantaranya adalah:
a. Acapkali sedih dan menangis
b. Keputusasaan
c. Tidak mampu menikmati aktivitas yang sebelumnya menjadi favoritnya
d. Terus menerus merasa bosan dan kurang energy
e. Kurang menghargai diri dan merasa bersalah
f. Sensitif yang berlebihan, melakukan penolakan atau merasa gagal
g. Cepat marah atau adanya rasa permusuhan
h. Sulit dalam bertaman
i. Sering absent dan sering tidak masuk sekolah
10. Sering mengeluh penyakit-penyakit fisik, seperti sakit kepala dan sakit perut
j. Kurang konsentrasi
k. Berpikir untuk melakukan bunuh diri atau perilaku yang merugikan diri sendiri
l. Alkohol dan drug
Anak yang menderita depresi sangat membutuhkan pertolongan dan dukungan yang serius, baik dari orangtua, dirinya sendiri, dan juga teman atau lingkungannya. Pada kondisi anak sedang depresi, perhatian dan keterlibatan orangtua dan orang-orang yang ada didekatnya sangatlah berarti baginya. Sangatlah penting bagi orangtua untuk segera menyadari bahayanya membiarkan anak dalam kondisi depresi. Orangtua harus mampu memberikan perhatian secara serius sebab jika tidak, risikonya akan lebih besar.
Sebelum terjadi penyesalan yang mendalam, berikanlah yang terbaik untuk buah hati kita. Mulailah memperhatikan anak-anak kita, apakah ada salah satu atau beberapa tanda di atas terjadi pada anak kita?. Jika ya, segeralah orangtua bertindak dan memperbaiki pola pengasuhan pada anak. Bukankah apa yang dikerjakan orangtua selama ini adalah untuk membuat buah hati tercinta bahagia?
3.4. Menangani Anak yang Sering 'Jahil'
Mengapa anak itu sering bersikap ‘jahil’?. Pertanyaan itu sering sekali kita dengar dari para orangtua, terutama yang anaknya menjadi korban ‘kejahilan’ teman-temannya. Menurut Frederic Luskin (2004), beberapa studi mengindikasikan bahwa pelaku kejahilan biasanya berasal dari keluarga yang selalu menggunakan kekerasan fisik dalam melakukan hukuman. Dengan dmikian, sang anak menjadi terbiasa menggunakan kekerasan fisik untuk menyelesaikan masalah.
Beberapa sikap jahil yang sering dilakukan anak ada yang bersifat langsung seperti menggoda, mengejek, mengancam, menendang, dan mencuri. Ada juga yang bersifat tidak langsung misalya menyebarkan rumor dengan sengaja sehingga menyebabkan korban diisolasi dari lingkungan sosial. Kejahilan tersebut biasanya dilakukan secara berulang-ulang untuk menciptakan hal-hal yang terus meresahkan dan mengganggu.
Sebagai upaya pencegahannya, perlu dukungan dari semua pihak, baik sekolah dan juga orangtua. Olweus (1993) mengatakan bahwa tindakan anti kejahilan merupakan sebuah tindakan yang memerlukan intervensi dari sekolah, kelas, dan individu.
Di lingkungan rumah, sebaiknya orangtua tidak membiasakan memberikan hukuman kepada anak dengan cara kekerasan, tetapi cobalah dengan memberikan pengertian atau pendekatan lain sesuai dengan usia dan kedewasaan anak. Tumbuhkanlah rasa percaya diri pada anak supaya ia merasa dirinya berharga. Sebab seperti yang diungkapkan Frederic Luskin (2004) menyatakan bahwa ada sejumlah fakta-fakta yang mendukung anggapan bahwa pelaku menjadikan orang lain sebagai korban karena merasa diri mereka buruk.
3.5 Pengaruh Pelayanan Terbaik bagi Anak
Memiliki anak berarti sudah harus siap menjadi ‘pelayan’. Orangtua akan memberikan layanan kepada anak sejak kecil hingga dewasa, atau bahkan mungkin sepanjang hidupnya. Bentuk pelayanan itu akan berubah sesuai kebutuhannya. Ketika masih bayi, orangtua melayani anak dengan cara banyak hal. Misalnya, menggantikan popok, membuatkan susu, memberikan makan, memandikan, dan banyak hal lainnya. Ketika anak menginjak usia remaja, orangtua memberikan pelayanan dengan cara membantu hal-hal yang ia belum mampu melakukannya. Misalnya, memperbaiki sepeda, mengantar anak ke toko buku, atau membantu menyelesaikan masalah-masalah pribadinya.
Tindakan melayani di atas terkadang tidak jarang membuat ibu atau ayah merasa kesal atau enggan untuk melakukannya. Apalagi ketika mereka sedang banyak urusan atau merasa sudah sangat letih dengan pekerjaan dan masalah lainnya. Perasaan seperti itu hendaknya dapat ditepis, sebab bagaimanapun segala bentuk pelayanan yang diberikan orangtua kepada anak merupakan hal yang dapat terekam kuat di pikirannya.
Pelayanan yang diberikan orangtua akan menjadi kenangan indah yang sulit untuk dilupakan oleh anak, bahkan sebaliknya. Suatu saat nanti ketika ia dewasa dan memiliki anak, ia akan dengan senang hati menceritakan kenangannya tersebut dan bahkan melakukan hal yang sama ( contoh membantu dan berempaty) terhadap buah hatinya atau bahkan kepada orang-orang yang ada di dekatnya.
Rasanya, akan sangat bahagia jika buah hati kita masih mengingat masa indah mendapat pelayanan yang tulus dari orangtuanya. Oleh karena itu, jadikanlah segala bentuk pelayanan yang orangtua berikan kepada anak tersebut sebagai bentuk kasih sayang. Hindari bentuk pelayanan tersebut dengan diikuti sebuah syarat. Tindakan tersebut akan mengurangi bentuk kasih sayang orangtua terhadap anak. Misalnya ‘Mama atau Ayah akan membantumu mengerjakan PR, asal kamu juara kelas, asal kamu mengambilkan koran setiap hari, asal kamu mau….’ dsb.
Seperti yang diungkapkan oleh Garry Chapman (2007) bahwa memberikan pelayanan yang terbaik kepada anak mempunyai pengaruh jangka panjang bagi anak. Ia akan menjadi seseorang yang bahagia dan memiliki kebiasaan baik dalam menjalani hidupnya. Selain itu, kebaikannya tersebut suatu saat nanti akan dapat dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya
BAB IV
PENUTUP
4.1. KESIMPULAN
Berdasarkan pemaparan yang telah dibahas di atas dapat disimpulkan bahwa:
a. Peranan orang tua sangat penting sekali bagi pendidikan dasar anak
b. Pola asuh mempengaruhi tumbuh kembang anak
c. Pentingnya menjalin kedekatan dengan anak
d. Beberapa prilaku orang tua yang harus dihindarkan terhadap anak yaitu: pemberian predikat buruk. Bertengkar, tidak disiplin, bersikap mengancam dan masabodoh, memukul, membanding-bandingkan dengan orang lain atau saudaranya, merendahkan anak, mengekang anak.
4.2. SARAN
Berdasarkan kesimpulan dari keseluruhan karya tulis ini. Penulis ingin memberikan beberapa saran yaitu:
a. Orang tua harus menjadi orang pertama yang mengetahui permasalahan anak dan mampu mencari solusi yang baik untuk anak
b. Kesadaran orangtua untuk lebih memperhatikan tumbuh kembang anak
c. Orang tua harus lebih memperhatikan dengan siapa dia bergaul, kegiatan apa saja yang dilakukan, jam berapa dia keluar rumah dan pulang.
d. Orang tua juga harus memberikan dasar keimanan pada anak, diharapkan dengan dasar agama yang baik anak terhindar dari pengaruh buruk teman-temannya dan lingkungan saat ini yang sangat rawan dan rentan pergaulan bebas.
e. Lakukan dari sekarang, agar tidak menyesal dikemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
www.PerkembanganAnak.com
Minggu, 17 Oktober 2010
Makalah sederhana tugas kuliah
20:05
Abi
Archives
-
▼
2010
(807)
-
►
November
(15)
- Pelanggaran HAM Amerika
- Bukti Pelanggaran HAM Dunia
- Pelanggaran HAM
- Proposal. Contoh Proposal. Proposal pencarian dana...
- MAKALAH PERSAMAAN HAK PPKN
- RESUME : ZAKAT DALAM KEHIDUPAN SOSIAL
- "RIBA KOMERSIAL" VERSUS "RIBA konsumsi"
- MAKALAH PERTANIAN
- MAKALAH KEBUDAYAAN
- Kematian sang abdi sejati
- Apa yang anda cari?
- Perpecahan di tubuh Khawarij
- CONTOH PENUTUP MAKALAH ILMU KALAM
- CONTOH KATA PENGANTAR MAKALAH
- EKONOMI KELEMBAGAAN SYARIAH
-
►
September
(61)
- penulis muda: Assalamu'alaikum Pak Ustad yang terh...
- Template Tutorial
- Monitor Komputer lebih Detail dengan Process Hacke...
- blog tutorial
- Ilmu Belajar Komputer
- Best Firefox Add-ons: Firebug - DailyBlogTips
- blog tutorial
- Penyakit pada Tumbuhan yang disebabkan oleh virus
- Penyakit pada hewan yang disebabkan oleh virus
- Penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus
- Lisensi Resmi PDF Converter untuk 10 Pengunjung eb...
- Ilmu Belajar Komputer
- blog tutorial
- What Would Happen If Google Removed The Nominal Pa...
- akhmadGuntar.com | Memantau Produktivitas Kerja di...
- Interesting Interview with Michael Arrington - Dai...
- Merebaknya Spam dari Account Email Yahoo (.co.id d...
- blog tutorial
- IdBlogNetwork: Peluang Mendulang Uang Dengan PPC L...
- 15 Tips For Those Who Want to Make Money Online - ...
- Gratis Wondershare Video Converter Ultimate [terba...
- Ilmu Belajar Komputer
- Blog Dofollow Indonesia
- blog tutorial
- akhmadGuntar.com | Stres dan Produktivitas: Teman ...
- Best Firefox Add-ons: FastestFox - DailyBlogTips
- blog tutorial
- Jalankan berbagai format Video dengan Paket Codec
- Template Tutorial
- Design With Intent: Free eBook - DailyBlogTips
-
►
November
(15)


0 komentar:
Poskan Komentar