akhmadGuntar.com | Tipe Orang yang Harus Dipunya dalam Jaringan Relasi Anda |
- Tipe Orang yang Harus Dipunya dalam Jaringan Relasi Anda
- Kiat Produktivitas #20: Sepuluh Alasan Untuk Mematikan TV
- 17 Tips & Kiat Ampuh Untuk Membangun Percaya Diri
- Download 62 Gambar Masjid (Mezquita/Mosque) Eksotis
- Manipulasi Jarak Psikologis: Jurus Jitu Pecahkan Masalah Sendiri
- 9 Kiat Menjadi Supervisor Handal
- Kiat Produktivitas #19: Produktif dengan Motivasi 3.0-nya Daniel H. Pink
- Doa terhadap Pasangan Baru Menikah
| Tipe Orang yang Harus Dipunya dalam Jaringan Relasi Anda Posted: 01 Aug 2010 04:24 PM PDT
Berapa teman Anda di facebook; di atas dua ribu? Atau di atas empat ribu barangkali? Lantas itu mengartikan apa? Kuantitas, iya. Tapi mari kita lihat aspek K yang kedua: Kualitas. Apakah jaringan Anda berkualitas? Jangan-jangan lebih dari separuh teman Anda adalah orang-orang yang tidak/belum Anda kenal. Dalam pertemanan dan pembentukan relasi, amatlah penting bagi kita untuk memiliki kekuatan dan komposisi relasi yang baik. Kekuatan serta kemanfaatan jaringan kita hanya akan sebaik kualitas orang-orang di dalamnya. Lebih dari itu, kebergunaan jaringan akan juga ditentukan oleh keseimbangan komposisi model orang-orang yang ada di sana. Idealnya, Anda akan perlu memiliki pertemanan yang di sana ada orang-orang dengan model sebagai berikut: 1. Role Model atau PanutanYakni orang-orang yang terlebih dahulu telah meraih sukses sebagaimana yang Anda juga idamkan. Dari mereka, Anda bisa belajar kesuksesan dan juga kegagalan mereka, Anda belajar kebijaksanaan dan pengalaman mereka. Mereka akan jadi relasi yang sangat berguna mengingat mereka telah terlebih dulu mengalami suka duka dan menjalani terjal dan dalamnya tantangan dalam impian yang Anda juga inginkan. Jika Anda bisa menjadikan mereka sebagai mentor, itu akan sangat baik sekali. 2. Orang Dalam dan Kompeten di PekerjaannyaIni adalah siapapun yang berada di internal perusahaan, asosiasi, atau komunitas apapun yang Anda punya kepentingan di sana. Dari mereka, Anda bisa dapatkan ‘gosip-gosip’ terbaru (yg legal tentunya). Semisal saja, dengan berteman dengan orang internal dari perusahaan penyedia layanan selular, Anda bisa dapatkan info terkait teknologi perangkat mobile, peluang kompetisi publik yang akan diadakan sebelum dia dipublikasikan, dan sebagainya. Dari mereka, Anda juga akan bisa dapatkan banyak pencerahan dalam bentuk perspektif yang tajam sesuai pekerjaan mereka dan masukan untuk gagasan-gagasan Anda. 3. Sang Pembawa KabarMereka adalah orang-orang yang selalu lebih dahulu tahu dan juga lebih banyak tahu perihal topik dan apapun yang sedang ngetrend saat ini. Pastinya, dari mereka Anda bisa dapatkan banyak masukan terkait topik yang Anda suka, dan juga bisa minimal banyak wawasan yang membuat Anda tak ketinggalan jaman dan bisa tampak cerdas dalam pergaulan di topik tertentu. Sang pembawa kabar tak jarang juga banyak tahu tentang bagaimana kabar orang-orang yang dia kenal dan juga orang-orang penting dan terkenal. 4. Sang PenghubungIni adalah orang-orang yang memiliki akses pada sumber daya, orang-orang, dan informasi. Sang penghubung tentunya adalah orang yang sangat tepat untuk membantu Anda mewujudkan rencana dan gagasan Anda, karena mereka bisa membantu Anda terhubung dengan orang-orang yang tepat, serta mendapatkan peluang-peluang baik dari segala jaringan yang mereka punya. 5. Sang RekananAnda butuh miliki relasi dari kalangan mereka yang berada dalam pekerjaan atau profesi yang sama atau mirip dengan Anda. Sudah pasti, dengan mereka Anda bisa saling berbagi sumber daya, kesempatan, dan informasi. Apakah Anda berkenan menjalin hubungan sebagai partner sinergis ataupun rival sehat p 6. Sang MuridSalah satu penanda bahwa kita punya kepahaman dan kepakaran adalah dengan melihat kemampuan kita dalam berbagi. Akan baik sekali manakala Anda memiliki orang-orang yang dengan mereka Anda bisa berbagi pengalaman dan pembelajaran. Tak perlu ada akad resmi sebagai mentor atau guru, dalam bentuk apapun kita bisa berbagi. Tidak hanya itu, seringkali orang-orang yang belajar dari Anda ini bisa membuat kita lebih termotivasi dalam produktif dan berkarya, sekedar dengan adanya perasaan bahwa ada orang-orang yang memperhatikan gerak gerik dan performa kita. Nah, sudahkah Anda memiliki relasi dengan komposisi tipe semacam di atas? Untuk jaringan yang sudah dipunya, Anda bisa mulai golongkan mereka dalam model ini
|
| Kiat Produktivitas #20: Sepuluh Alasan Untuk Mematikan TV Posted: 29 Jul 2010 11:01 AM PDT
Sedari dulu saya bukanlah penggemar televisi. Mungkin juga karena sedari dulu juga karena saya lebih sering berinteraksi dengan komputer. Tidak lantas saya mendakwa televisi sepenuhnya jelek, karena faktanya ada juga kok acara televisi yang bagus (misal toh: Upin dan Ipin). Namun bahkan jika televisi sudah menghapuskan infotainment dan menggantinya dengan film2 yang halal, tetap saja televisi bisa datangkan keburukan dan menghambat produktivitas. Silahkan renungkan, manakala Anda matikan televisi Anda, berapa banyak pekerjaan yang bisa Anda rampungkan? Manakala televisi Anda matikan, temukan betapa Anda jadi lebih punya waktu dan energi untuk menyeimbangkan porsi peran dan kehidupan Anda, untuk kemudian menjadi produktif di tiap peran itu. 1. Karena Anda belum cukup ngobrol dengan istri/suami Anda, sementara dia sebetulnya ingin bisa bicara dengan Anda. Jika Anda tidak bisa jadi teman terbaiknya, jangan2 dia bisa beralih ke yang lain lho; mulai dari obrolan yang ringan2, sampai kemudian pada yg sangat serius. 2. Karena anak Anda.
3. Karena televisi bisa menumpulkan pikiran dan emosi Anda. Bayangkan saja; jika Anda disodori informasi konyol yang membuat pikiran Anda pasif saja, membuat emosi Anda terkendalikan oleh urusan dan aib orang lain, lama-lama Anda pun menumpul. 4. Karena Anda sudah lama sekali tidak membaca buku, bukan? Apakah Anda juga ingin anak Anda bisa membaca televisi ketimbang membaca buku? 5. Karena Anda harusnya melakukan kebiasaan yang lebih bermanfaat dan bernilai bagi Anda. Mengurangi berat badan hingga sehat ideal? Tidakkah menonton televisi malah membuat Anda jadi lebih suka ngemil? 6. Karena berita pagi dan sore hari selalu saja isinya kabar buruk yang juga memburukkan mood Anda, hingga berdampak pada memburuknya kemampuan Anda dalam mengambil keputusan secara baik.
7. Karena iklan televisi membuat Anda tergoda untuk membeli apa-apa yang sebenarnya tak perlu untuk dibeli. Anda jadi tergoda oleh keinginan, bukannya kebutuhan. Dan sadari, apa yang paling sering terngiang di pikiran Anda akan jadi ingatan, kemudian jadi gagasan dan pemikiran, hingga kemudian jadi tindakan, entah baik atau buruk. 8. Karena Anda harusnya bisa tidur dengan lebih nyenyak dan cukup waktu. Siyalnya memang, banyak film-film bagus yang diputar sampai larut malam, bukan. 9. Karena pada akhirnya Anda mengeluhkan waktu yang terasa kurang untuk mengurusi perihal lain yang nyatanya memang lebih penting. Anda punya target finansial yang ingin diraih? Bagaimana dengan target kontribusi? Menonton televisi membuat Anda jadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. 10. Karena orang yang kecanduan televisi terbukti punya kehidupan yang lebih susah. |
| 17 Tips & Kiat Ampuh Untuk Membangun Percaya Diri Posted: 13 Jul 2010 03:08 PM PDT Melihat arsip-arsip tulisan lama, saya baru ingat bahwa saya dulu pernah membuat tulisan tentang signifikansi percaya diri dan bagaimana mengukurnya, namun terlupa untuk melanjutkannya dengan kiat bagaimana memPeDekan diri. Baik, langsung saja; berikut ini adalah 17 kiat untuk membangun percaya diri. 1. Ubah Sikap TubuhJika mengubah sikap mental itu terasa susah bagi Anda, maka cobalah untuk mengubah sikap tubuh. Teramat sering, ini akan terasa lebih ringan bagi Anda. Manakala Anda merasa gugup ketika hendak diminta berbicara, tariklah napas dalam, tahan, lalu hembuksn. Namun sebelumnya tegakkan dulu badan Anda, perkenankan sangkar rusuk Anda terbuka sempurna. Tak hanya itu, sedikit dongakkan kepala Anda, lalu paksa diri Anda untuk tersenyum. Dijamin, dengan begini Anda akan susah untuk merasa buruk; sekedar mengondisikan sikap tubuh. Intinya, gunakan dan bawakan tubuh Anda secara lebih percaya diri. Bingung memulainya? Lihat saja film atau teman2 Anda yang berPeDe besar. Tak ada ruginya; toh postur yang benar juga menyehatkan.
2. Umpamakan Anda PeDeBuatlah pengandaian, dan terapkan. Maksudnya demikian: bayangkan, seandainya Anda ini orang yang percaya diri, bagaimana Anda akan bersikap? Apakah cara berjalan Anda berbeda dari yang sekarang? Bagaimana dengan cara Anda menatap orang lain ketika berbicara dengannya? Cara Anda cuek dengan tatapan mata cemooh orang lain? Atau jangan-jangan Anda bisa melihat betapa cemoohan itu sebenarnya hanya di bayangan Anda? Singkatnya, bayangkan apa yang Anda pikir, katakan, dan lakukan manakala Anda percaya diri. Bayangkan itu Anda benar-benar jalani dalam bayangan, lalu benar-benar lakukan. 3. Pantaskan Dandanan Diri AndaBukan, bukan dandanan make up. Maksudnya, tampakkanlah secara fisik diri Anda yang percaya diri untuk membuat mental Anda terpengaruh dengannya. Bercukurlah, mandilah dengan baik, berbusanalah secara baik. Manakala Anda berbusana baik, maka perasaan Anda pun juga akan baik. Sampai sekarang, saya masih menggunakan dasi dan vest selama kuliah (s2). Selain itu menunjukkan respek saya pada pendidikan, institusi dan segala yang ada di sana, itu juga secara langsung membuat saya lebih percaya diri.
4. Netralkan Omongan Buruk ItuBagaimana jika memang benar ada orang-orang yang bicara buruk dan cemooh tentang Anda, dan Anda mengetahuinya. Ya sudah, hadapi. Namun sekarang modifikasi cara Anda membayangkannya. Bayangkan di benak Anda ada sebuah kenob volume suara yang bisa Anda kendalikan. Kecilkan suaranya, pokoknya sampai tidak terlalu keras, lalu ubah suaranya jadi lebih lucu; suaranya Upin Ipin barangkali. Anda bisa bayangkan bagaimana orang dg suara Upin Ipin berbicara buruk tentang Anda. Terdengar lucu, bukan? Itulah tujuannya. Coba saja, ini terbukti efektif kok. 5. Sengajakan BersyukurSengajakan diri Anda untuk mensyukuri apa-apa yang ada alih-alih mengkhawatirkan apa-apa yang Anda tak punyai ataupun yang belum terjadi. Selain berucap hamdalah, ucapkan juga “Terima kasih, Ya Tuhan, terima kasih” dan bersungguh-sungguhlah dengan ucapan itu. Sadari bahwa Tuhan telah memberi Anda banyak sekali kecukupan. 6. Bayangkan Anda Sudah Pernah LakukanTatkala Anda hendak melakukan suatu hal untuk pertama kalinya -memberi sambutan di podium? memimpin beberapa orang bawahan?- bayangkan Anda telah pernah melakukannya di masa lalu. Bayangkan dari sudut pandang orang lain Anda melakukan aktivitas itu dengan begitu baiknya. Lalu dengan skenario yang sudah terbangun itu, bayangkan lagi, namun kali ini dengan Anda sebagai pelaku, dari sudut mata Anda sendiri. Pikiran Anda tak bisa membedakan antara apa yang secara jelas gamblang Anda bayangkan dan apa yang semu. Maka jadikan bayangan Anda sedemikian jelas, lakukan berulang kali. 7. Gunakan Bantuan MusikTiap orang bisa berbeda, ada yang kurang peka dengan musik, melainkan dengan liriknya. Apapun, gunakan suara dari luar yang itu terdengar enak di kepala Anda. Jika Anda peka dengan lirik, maka sebaiknya fokuskan pada musik/nadanya saja. Kecuali bila Anda bisa temukan lagu dengan lirik yang betul-betul baik. Tapi cara ini hanya sementara, sekedar untuk membawa Anda ke kondisi yang lebih siap untuk berpikir PeDe. 8. Buatlah Rencana dan Janji Kecil, lalu TepatiAnda perlu setidaknya merasa sebagai orang yang punya kendali dan patuh komitmen pada diri sendiri. Maka buatlah rencana2, keputusan2 dan janji2 kecil pada diri sendiri, lalu tepati. Setelah itu, beranjaklah ke yang lebih besar. Setelah lolos, atau bersamaan dengan itu, beranjaklah dengan rencana, keputusan, dan janji yang melibatkan orang lain. Namun ingat, jangan jadi martir yang berusaha menyenangkan semua orang dengan penuhi ekspektasi mereka. Anda bahkan harus membangun PeDe atas kemampuan berkata “Tidak” atas perihal yang melemahkan PeDe Anda (misal dibuat melakukan ini, itu, dst sampai-sampai Anda gagal memenuhinya) 9. Buatlah Target Capain Kecil, Penuhi Melebihi EkspektasiPrinsipnya sama dengan yang sebelumnya. Buatlah Anda merasa punya kepantasan untuk mencapai goal dengan terlebih dulu meraih yang kecil-kecil. Jangan langsung berusaha menggapai bintang; gapai dulu apa yang ada di atas pohon. Kesuksesan Anda meraih goal yang sederhana membuat Anda merasa punya kepantasan untuk meraih yang lebih tinggi. 10. Banyak-banyak ingat pengalaman baikPerhatikan betul bagaimana Anda mengatur laci ingatan Anda, karena itu akan berpengaruh pada keberanian Anda untuk menatap ke depan dengan jantan. Wajar memang manakala pengalaman buruk dan gagal banyak mendominasi pikiran. Maka paksalah diri Anda untuk bisa mengingat hal-hal baik dengan menuliskan pengalaman baik (utamanya yang melibatkan orang lain) dan segala bentuk pencapaian dan prestasi yang itu tak ada piagamnya sekalipun. Ingat-ingat juga omongan orang yang Anda kagumi. Kesalahan dan gagal di masa lalu? Tertawakan itu semua! 11. Sadari bahwa prestasi buruk masa lalu tidak menggambarkan prestasi masa depanUntuk masa lalu yang kelam dan miskin pencapaian, sadari bahwa masa depan Anda tidaklah lantas didakwa berdasarkan masa lalu Anda. Banyak orang jadi sukses justru karena Tuhan membuat mereka belajar dari masa lalu yang penuh kekalahan. Kegeraman mereka atas masa lalu membuat mereka bersemangat lebih besar untuk menciptakan masa depan yang lebih positif. Dan ternyata kepecundangan mereka di masa lalu malah menguatkan mental mereka, membuat mereka di masa sekarang dan di masa depan tak goyah oleh gagal dan salah yang menerpa. Lha dulu sudah pernah mengalami yang lebih buruk kok. Kepecundangan masa lalu malah jadi modal yang bernilai mahal untuk membangun sifat tahan banting dan persisten. Syukuri itu, dan sekarang tinggal hadapkan wajah dan mulai melangkah kencang ke depan. Ibarat mengendara mobil, Anda tak akan bisa lancar melaju dengan terus melihat ke belakang lewat spion. 12. Beri harga yang pantas pada diri Anda, jangan didiskonTemukan bakat-bakat Anda dan aktivitas2 yang membuat Anda merasa punya daya besar ketika menjalani dan sesudahnya. Tuliskan kekuatan aktual Anda, temukan kekuatan laten Anda. Untuk dua-duanya, manfaatkan hingga Anda mencapai kepuasan sekedar dari menjalaninya. Anda lantas akan temukan berangsurnya Anda jadi lebih kompeten dalam hal itu, hingga Anda jadi lebih bisa menikmatinya serta merasa PeDe dengannya. 13. Miliki pertemanan yang positifBaiklah, ada kalanya Anda tak bisa menghindar dari orang tertentu. Tapi bagaimanapun, Anda bisa memilih dengan siapa Anda lebih sering berinteraksi. Ingat bahwa kualitas diri Anda, kualitas PeDe Anda juga dipengaruhi oleh mereka-mereka di kisaran diri Anda. 14. Beri Diri Anda Asupan yang PositifMustahil sebuah teko bisa mengeluarkan teh yang manis manakala apa yang dimasukkan ke sana adalah garam dan terasi dengan tanpa ada gula melainkan sedikit saja. Mustahil Anda bisa merasa PeDe dengan mendengarkan gunjingan, makian, gerutuan, rasan-rasan (gosip), dan beragam ucapan sampah. Termasuk asupan positif adalah bahan bacaan dan tontonan; pokoknya apapun yang Anda dengar, baca, dan lihat. Maka jangan tonton tayangan gosip, aib, atau masalah orang lain. Itu semua akan membuat emosi Anda terkondisi untuk alasan-alasan yang tak patut (Anda ikutan marah manakala artis tertentu tidak mengaku salah? tatkala dia berselingkuh? tatkala dia berbohong? Lha buat apa?!) 15. Bangun kompetensi diri, bukan rendahkan yang lainCara pertama untuk membangun PeDe adalah dengan membangun, mengupgrade kompetensi diri -wawasan (knowledge), keterampilan (skill), dan mentalitas (attitude). Ini tentu cara yang baik. Cara kedua untuk membangun PeDe adalah dengan menstagnansi diri, lalu bersamaan dengan itu merendahkan orang lain, atau apapun yang membuat diri menganggap orang lain tertentu lebih rendah. Ini adalah cara-cara pemalas untuk menyenangkan dirinya, dengan menenangkan diri bahwa ternyata masih ada orang yang lebih buruk ketimbang dirinya. Jangan khawatir, kita bisa kok menjadi PeDe tanpa merendahkan orang lain. Yang pasti, semakin ahli, semakin PeDe juga Anda jadinya. Maka ketahuilah caranya. 16. Bersainglah dengan Diri SendiriOleh karenanya, bersainglah Anda dengan diri sendiri, bukan dengan orang lain. Khususnya apabila Anda tak bisa menemukan orang yang betul-betul serupa dengan Anda dalam hal keunikan kompetensi. Anda tak bisa dong membandingkan ukuran prestasi pemain bilyar dengan perenang. Ingat-ingat dan buat ukuran bagaimana kompetensi Anda yang sekarang (=baru berani bicara di hadapan 10 orang) lalu di masa depan tertentu nanti lalukan perbandingan lagi (=sudah berani bicara di hadapan 50+ orang. Pencapaian!) dan rayakan! 17. Buatlah, Kontribusikan Capaian Prestasi yang UnikTemukan keunikan Anda, lalu buatlah capaian yang sifatnya unik dan itu bermanfaat bagi orang lain. Keunikan capaian akan membuat Anda merasa berkembang dalam keotentikan diri, dan itu memuaskan, sementara mengkontribusikan itu juga akan membahagiakan Anda. |
| Download 62 Gambar Masjid (Mezquita/Mosque) Eksotis Posted: 08 Jul 2010 01:14 PM PDT
Berikut adalah 62 gambar masjid di beberapa penjuru dunia. Saya menemukan mereka semua dengan nama ‘mosque’. Karena pernah mendapat email tentang mosque yang katanya berasal dari kata ‘mosquito’, maka saya pun coba browsing-browsing. Kesimpulannya? Tidak benar! Silahkan Anda lihat di sini. Maka kesimpulannya, mosquito itu aslinya ya mosquito, dan mosque aslinya ya dari kata masjid (maskit, begitu orang spanyol awalnya berucap). Anyway, silahkan menikmati gambar-gambar masjid Eksotis. Eksotis di sini bukan hanya berarti fantastis megah, tapi juga fantastis bersahaja.
Selain istiqlal, di sini ada masjid gedhe kraton yogyakarta (by Dekoelie), dengan salah satu perihal yang membuat “eksotis” adalah karena ada banyaknya pengemis yang mangkal di depan masjid
|
| Manipulasi Jarak Psikologis: Jurus Jitu Pecahkan Masalah Sendiri Posted: 30 Jun 2010 05:37 PM PDT
Untuk itu, perlu kiranya kita melihat penelitian ilmiah yang terkait dengan hal ini (1). Dalam riset yang dilakukan oleh Indiana University ini, ditemukan bahwa subyek penelitian akan lebih mudah untuk menyelesaikan permasalahan yang datang dari institut berjarak 2 ribu mil dari sang subyek ketimbang yang jaraknya 2 mil. Jarak psikologis ini juga bisa diciptakan dengan menghadapkan subyek penelitian dengan masalah-masalah yang dialami oleh para tokoh sejarah di masa lalu, alih-alih masalah yang dihadapi di jaman modern saat ini. Secara logis, harusnya tidak ada perbedaan antara apakah masalahnya itu dihadapi oleh Cut Nya’ Dien ataukah mas Parto di sebelah rumah. Tapi nyatanya jarak psikologis membuka cara berpikir yang baru. Implikasi jelasnya adalah bahwa kita akan lebih susah untuk memecahkan masalah manakala masalahnya semakin dekat dengan kita, baik secara jarak fisik (dari orang-orang yang terdekat dengan kita, atau malah masalah kita sendiri) dan juga secara waktu (masalahnya terjadi betul-betul di saat sekarang, bukannya kemarin-kemarin atau nanti di masa mendatang). Jarak psikologis mempengaruhi bagaimana cara pikir kita membentuk sesuatu, sedemikian rupa perihal yang letaknya jauh akan cenderung terepresentasikan secara abstrak sementara yang dekat secara psikologis akan tampak lebih konkrit. Maka semisal saja Anda membaca novel atau sinetron dengan seting kerajaan majapahit yang berkisah tentang seorang pasangan suami istri yang sudah punya momongan kecil namun berkendala dalam hubungan mereka: sang suami suka minum-minum, suka memukul istri, dan tidak menjalankan tanggung jawab mencari nafkah bagi keluarga. Jika itu memang hendak dipecahkan, maka masalahnya ya gampang saja: cerai. Dan Anda pun akan bisa temukan beragam cara kreatif terkait bagaimana mekanisme menuju perceraian (minta bantuan mertua, teman, tokoh masyarakat, dsb) dan bagaimana menjalani kehidupan sebagai single parent. Nah, lantas sekarang bayangkan bahwa masalahnya itu terjadi di keluarga Anda sendiri saat ini, atau –hopefully not– terjadi bahkan terhadap Anda sendiri. Situasinya sudah tidak lagi terkesan jelas. Manakala ada yang berkata “Please, beri aku kesempatan satu kali lagi”, rasanya sudah tambah susah saja untuk mengambil sikap yang tegas. Secara obyektif, situasinya sangat identik. Perbedaannya terletak pada bagaimana persepsi kita. Semakin jauh jarak kita dari masalah, semakin mudah bagi kita untuk menemukan pola dari masalah serta, melihat keterkaitan antar aspek-aspek yang terlibat, serta untuk menyusun berbagai kombinasi solusi yang dimungkinkan. Namun kedekatan jarak psikologis membuat kita merasakan berkeranjang keranjang emosi yang jadi beban di pikiran kita dan membuat kita lebih susah lakukan beragam pemikiran kritis dan obyektif. Sementara untuk masalah yang jauh secara psikologis, keranjang emosi itu jadi milik orang lain, kita tidak kebagian andil untuk turut memikulnya. Tapi tidak hanya itu, begitu jawabannya sudah Anda lihat, Anda juga harus menindakinya. Ketika masalahnya bukan milik Anda, Anda tidak merasakan konsekuensi dari segala keputusan yang diambil. Anda bahkan tidak berada di ruangan yang sama sehingga tidak bisa merasakan seramnya mengatakan “Aku ingin kita bercerai saja.” Bukan Anda juga yang harus merasakan beratnya hidup sendiri tanpa dukungan orang yang terkasih. Bukan Anda juga yang harus menanggung manakala ada apa-apa yang salah. Ketakutan akan konsekuensi yang potensial dialami membuat kita jadi lebih susah berpikir kreatif.
Nah, sekarang yang penting adalah: Lantas gimana, dong? Untuk masalah yang milik Anda sendiri atau orang-orang yang terdekat dari diri Anda, gunakan jarak psikologis untuk keuntungan kita. Bayangkan masalah itu terjadi pada Anda di masa lalu atau di suatu saat nanti di masa depan. Langsung pandang lagi masalahnya dan coba cari solusinya dengan melakukan kombinasi dengan: atau Bayangkan masalah itu adalah masalah orang lain. Atau bayangkan masalah itu tetap sebagai masalah Anda, sekarang tinggal Anda memposisikan diri sebagai layaknya orang lain. Dan kalau saya, inilah yang biasanya saya lakukan. Frame waktunya tidak berubah, karena bagi saya, ketersediaan resource masa depan atau masa lalu tidaklah sama dengan masa sekarang (kecuali kalau Anda bisa membayangkannya sebagai sama). Untuk masalah tertentu, saya bahkan mengundang diri saya di masa depan untuk hadir di masa depan dan turut memberi nasehat. Ini dengan anggapan bahwa saya di masa depan adalah orang yang lebih bijak dan matang serta —tak kalah pentingnya– juga bisa mengatakan dan meyakinkan betapa pilihan tak enak yang sulit untuk diambil di saat ini akan memberikan kebaikan yang amat besar dan menggiurkan di masa depan. Bagaimanapun, kita yang di saat ini perlu dioptimiskan dan diyakinkan tentang kebaikan yang bisa didapat dari keputusan sulit kita di masa sekarang, untuk kemudian dibuat lebih condong pada menjalani pilihan sulit itu. Jika cara ini terkesan aneh, well, ini efektif kok PS: dan sadarkah Anda, jarak psikologis ini juga berlaku untuk keyakinan orang tentang sembuh. Pernah dengar istilah “Dukun yang manjur itu adalah dukun yang letakknya jauh”? Semakin orang berobat (atau minta nasehat) ke tempat yang jauh, atau apapun yang butuh pengorbanan besar, biasanya semakin besar anggapan dia terhadap kemanjurannya. Tapi ini sudah cerita yang berbeda (1) Lile Jia, Edward R. Hirta dan Samuel C. Karpena (2009), Lessons from a Faraway land: The effect of spatial distance on creative cognition, Department of Psychological and Brain Sciences, Indiana University, Bloomington |
| 9 Kiat Menjadi Supervisor Handal Posted: 22 Jun 2010 03:15 PM PDT
Supervisor adalah seseorang yang ditugasi untuk membuat perencanaan, melakukan pengawasan dan pengelolaan terhadap orang-orang yang ada di bawahnya berdasarkan hierarki jabatan. Berikut ini adalah kiat untuk menjadi supervisor yang lebih baik khususnya dalam kaitannya menghadapi mereka yang disupervisi. 1. Perhatikan betul momen interaksi Anda.Bersikaplah lebih cermat dari biasanya di setiap interaksi dan komunikasi antara Anda dan anak buah. Lebih cermat di sini dalam artian bersikap reflektif dan awas: “Apakah aku mau manakala disuruh atau dinasehatin dengan cara seperti ini?”, “Apakah aku sudah menunjukkan rasa hormat kepada mereka yang aku suruh ataukah aku terkesan mentang-mentang dan sok?”, “Apakah cara ngomong yang seperti ini bisa dipahami oleh mereka?” 2. Dapatkan masukan langsung dari anak buah Anda.Terutama di saat momen informal, coba tanyakan kepada anak buah tentang apa-apa yang bisa membuat Anda bisa lakukan tugas dengan lebih baik;
Seluruh pertanyaan di atas pada dasarnya menanyakan persepsi anak buah terhadap supervisor sehingga bisa ditemukan informasi yang spesifik dari tiap orang. Anda tidak sebaiknya menghabiskan seluruh pertanyaan itu pada satu orang. Atau jikapun Anda memang punyai karyawan yang amat kritis, jangan tanyakan itu semua pada satu waktu. Untuk karyawan yang kurang kritis (atau kurang cerdas), Anda sebaiknya berikan dia waktu untuk menjawab; entah beberapa jam atau hingga keesokan harinya. 3. Dengarkan dengan lebih baikSemakin Anda handal dalam mendengarkan kebutuhan orang lain, semakin orang lain akan merasa dihargai, hingga kemudian semakin juga mereka menghargai dan mendengarkan Anda. Tidak hanya itu, mereka akan lebih permisif atas kesalahan atau khilaf yang Anda pernah lakukan. Terkadang anak buah sekedar ingin agar suaranya didengarkan (terutama perempuan) tanpa kemudian menuntut ada penyelesaian dari apa-apa yang mereka sampaikan. Maka jangan selalu terbebani bahwa Anda harus mengakhiri sesi obrolan Anda dengan solusi. Yang wajib Anda lakukan adalah membiarkan dia berbicara hingga rampung, melakukan parafrase sewajarnya, mengorek informasi yang relevan dari apa yang sekiranya belum disampaikannya, dan tidak mempersalahkan apa-apa yang dia rasakan. 4. Ciptakan atmosfer yang aman untuk berbicara lepasSupervisor yang sedemikian tampak berkuasa bisa membuat anak buah sungkan atau malah sampai tak berani bersuara. Jika Anda bersungguh-sungguh ingin meminta umpan balik dari anak buah, maka Anda harus membuat mereka merasa aman dulu untuk bersuara dengan jujur. Hal ini Anda lakukan dengan sejak awal mengatakan betapa Anda menghargai kejujuran yang disampaikan dengan cara yang baik (misal untuk bicara keburukan, jangan di depan umum). Setelah ada yang benar-benar bersuara kepada Anda, maka jangan pernah hukum. Jika memang dia menyampaikan dengan cara yang kurang santun, atau bahkan informasi yang dia sampaikan ternyata bohong, maka jangan sampai para anak buah salah mengira bahwa Anda membenci sikap keterbukaannya.
5. Jika memang ada perilaku atau performa buruk, tangani dengan cepat dan tegasPerilaku yang buruk (berbohong, menyalahgunakan kewenangan, memanipulasi, korupsi) harus diberantas sejak masih berupa tindakan-tindakan sederhana. Kepedulian Anda dalam menangani “dosa-dosa” kecil akan membuat anak buah Anda sungkan dan ragu sekedar untuk merencanakan “dosa-dosa” besar. Di sinilah letak ketegasan. Sementara itu, manakala umpan balik atau penyikapan diberikan setelah kesalahan terjadi berlarut-larut, maka bisa jadi banyak hal yang sudah tidak lagi diingat dan tidak terasa urgen lagi perihalnya. Oleh karenanya, lakukan evaluasi dengan segera. 6. Berlatihlah dalam menemukan kebaikan orang lainSemakin Anda terampil dalam menemukan kebaikan dan performa baik anak buah, sekecil apapun itu, dan lalu mengungkapkan kepada mereka –apalagi di hadapan orang banyak, itu akan membuat reputasi Anda semakin meningkat di hadapan anak buah. Bahkan mereka yang belum tampakkan performa baik pun menjadi hormat dan suka pada Anda. 7. Jangan Jai’m secara berlebihanJaga image atau ja’im memang diperlukan. Berbicara dengan bahasa indonesia formal dan mengenakan pakaian resmi memang bisa mengundang rasa hormat, yang mana itu penting untuk dipunya seorang supervisor. Namun jangan lantas keterusan. Ingatlah bahwa rasa hormat anak buah harusnya bukan sekedar dari busana dan cara bicara (tapi itu tetap penting), melainkan sejak awal sang supervisor perlu miliki pengetahuan, skill, dan mentalitas yang lebih baik atau yang memang bisa diteladani. Maka manakala di luar kantor, jangan terus terbawa kondisi formal, karena toh masih ada hal lain yang bisa datangkan hormat selain dari formalitas. Banyak sekali perihal yang bisa digali dari anak buah manakala mereka sedang tidak terkondisikan secara formal dan tidak sedang merasa ada jarak yang jauh antara mereka dan Anda sang supervisor. 8. Tunjukkan bahwa Anda peduli pada anak buah sebagai manusiaDalam bisnis yang kian kompetitif seperti sekarang ini, bersikap tegas dan selalu bercara pandang “ini bisnis, jangan main-main” mudah sekali untuk dilakukan. Yang lebih sulit adalah menyeimbangkannya dengan cara pandang bahwa anak buah bagaimanapun juga manusia; mereka punya kebutuhan untuk dihargai, dimengerti kebutuhan dan emosinya, serta diperhatikan. Penelitian yang dilakukan oleh Gallup menunjukkan bahwa bagaimana sikap dan perasaan sang atasan terhadap anak buah memberi dampak positif yang besar pada bagaimana anak buah akan bersikap dan berperforma pada pekerjaan mereka.
Karyawan yang merasa dirinya diperhatikan akan merasa enggan untuk meninggalkan tanggung jawab, semakin kecil peluangnya mengalami kecelakaan kerja, semakin kecil kemungkinannya mengajukan komplain atau klaim, menjadi enggan untuk berbuat buruk seperti mencuri, lebih susah untuk berhenti, dan tentunya akan lebih berpeluang bicara baik tentang supervisor mereka ke rekanan, teman, dan keluarga.
9. Teladankan sikap sopan dan menghormatiDi tengah lingkungan kerja yang sedemikian padat urusan, karyawan bisa tenggelam dalam pekerjaan mereka dengan bertumpuk email, SMS, dan dokumen kerja. Terkadang itu semua bisa membuat seseorang lupa untuk menanggapi dengan cara-cara yang baik hingga akhirnya menimbulkan perasaan tak nyaman di pihak lain. Hal ini semisal saja:
Dan kiat terakhir ini lah yang secara umum perlu dijadikan pegangan: jadilah teladan, dalam perihal sekecil apapun. |
| Kiat Produktivitas #19: Produktif dengan Motivasi 3.0-nya Daniel H. Pink Posted: 13 Jun 2010 03:15 PM PDT
Dalam bukunya ini, Dan Pink mengingatkan tentang Motivation 1.0 yang berbasis pada insting untuk bertahan hidup. Pada model motivasi ini, kebanyakannya berbentuk motivasi biologis; kita makan manakala lapar, minum manakala haus, dan nlakukan hubungan seks manakala sedang “pusing”. Tapi manusia tidaklah sebatas itu. Kita juga punya penggerak lain yang mana berbentuk imbalan (rewards) dan hukuman (punishment), khususnya dari lingkungan eksternal kita. Ini adalah Motivation 2.0 yang sering disebut sebagai konsep motivator carrots and sticks, di mana manusia seperti dianggap sebagaimana makhluk yang lebih cerdas dan lebih tercerahkan ketimbang kuda yang tergerak hanya dari keinginan mengejar wortel dan menghindar dari pecutan. Dan cara pandang ini lah yang telah marak berkembang semenjak dulu. Dasar-dasar ilmu manajemen mengatakan bahwa cara untuk membuat manusia bisa bekerja lebih baik adalah dengan memberikan imbalan (rewards) atau hukuman (punishment); bahwa manakala wortel dan pecutnya dihilangkan, manusia tidak akan bisa berbuat banyak. Dan ternyata itu tidaklah benar, setidaknya bila berdasarkan hasil penelitian sains perilaku selama 40 tahun belakangan ini. Nyatanya, sistem operasi yang bekerja di kisaran konsep carrots & sticks sudah tidak lagi kompatibel dengan bagaimana kita hidup dan bekerja. Sebagai contoh kasus sofware open-source, di mana orang-orang tekun & pintar dari seluruh dunia bekerja bersama selama minimal 20 jam per minggu tanpa dibayar. Hebohnya lagi, mereka lantas memberikan hasil kerja mereka secara gratis ke seluruh dunia. Menariknya, mereka itu bukanlah pengangguran, mereka sudah bekerja dengan bayaran yang baik. Lantas secara intelektual dan teknikal, tingkat kesulitan dalam mengerjakan Linux itu sama tingginya, atau malah bisa jadi lebih tinggi daripada pekerjaan asli mereka. Motivation 2.0 akan mengatakan bahwa hal semacam itu tidaklah memungkinkan. Namun, sampai saat ini terbukti begitu banyak server korporat menggunakan Linux, Wikipedia telah menjadi ensiklopedia paling terkenal di seluruh dunia, dan banyak orang nge-Blog, membuat tulisan berkualitas, tanpa ada imbalan ekonomi yang jelas.
Apa yang ditunjukkan dari penelitian oleh para profesor dari Carnegie Mellon, MIT dan University of Chicago adalah: untuk kerjaan (task) yang sederhana dan apa adanya (straightforward), motivator semacam carrots and stick memang bekerja baik. Namun manakala kerjaannya sudah melibatkan aktivitas kreatif, berpikir kompleks, kemampuan konseptual, motivator semacam itu tidak lagi bermanfaat, dan malah bisa bisa memburukkan performa. Tatkala diiming-iming reward yang besar, dengan punishment yang besar pula manakala tak berhasil meraihnya, dan itu sifatnya untuk performa jangka pendek, banyak orang –tidak semua– akan mengambil jalan curang. Bukan hanya terkait pencapaian finansial, kasus di Georgia, 25% hasil kerjaan siswa ternyata terindikasi merupakan hasil kecurangan. Silahkan ingat-ingat juga kasus UNAS di Indonesia. Carrots & sticks hanya bisa bekerja baik dalam jangka pendek. Sama juga, motivasi bermodel “jika-maka” — “Jika kamu lakukan ini, maka kamu akan dapatkan ini” — bekerja sangat baik pada kerjaan yang rutin, sederhana, dan telah tertata dalam aturan. Namun tidak demikian halnya untuk tantangan yang bersifat konseptual dan kompleks. Gawatnya, motivator yang bersifat contigent (sesuatu hanya bisa didapat manakala apa yang dipersayaratkan terpenuhi) ternyata malah bisa menghambat pemikiran kreatif. Untuk mengarahkan fokus, memang bagus. Namun dalam model motivasi ini, kerangka berpikir seseorang jadi menyempit, khususnya manakala sudah ada langkah langkah jelas untuk mencapainya (harus melakukan ini dan itu, belajar ini dan itu dalam jadwal dan cara-cara tertentu). Sementara manakala hendak melakukan sesuatu yang kreatif, melibatkan inovasi dan berpikir konseptual, motivator contigent tidak lagi bekerja baik. Karena apa yang dibutuhkan adalah cara pandang yang lebih luas untuk bisa melihat feriperal perspektif yang lebih kaya. Dalam Motivation 3.0, orang giat dan tergerak untuk melakukan aktivitas justru dari kesenangannya menjalankan aktivitas itu. Daniel Pink mengajukan tiga faktor berikut sebagai apa yang membuat seseorang bisa mencapai kebesarannya: Autonomy, Mastery, dan Purpose. Autonomy adalah dorongan dari diri untuk mengarahkan kehidupan sendiri. Ini terjadi manakala seseorang diberikan –atau memberikan kepada dirinya sendiri– keleluasaan untuk menentukan hal baik apa yang hendak diraihnya, di mana, kapan, dan dengan cara apa dia meraihnya. Enam puluh persen inovasi google –semacam gmail dan google news– didapatkan dengan cara semacam ini: membebaskan karyawan dalam rentang waktu tertentu untuk melakukan hal baik apapun yang mereka suka untuk lakukan. Mastery adalah keinginan untuk menjadi lebih baik dan terus lebih baik di perihal yang berarti. Ini adalah apa yang mendorong seseorang untuk terus berlatih alat musik tertentu di akhir minggu, dan melatih keterampilan apapun yang mana sebenarnya tidak berikan dia nilai tambah secara ekonomis. Dia melakukannya karena ingin jadi lebih bagus dan lebih sempurna lagi. Dan dari situ dia merasakan kesenangan yang luar biasa; bahwa aktivitasnya itu sendiri yang jadi motivatornya. Purpose adalah mengharap-harap untuk bisa tersambung dan beri manfaat dengan apa-apa yang lebih besar ketimbang diri sendiri. Ini dimiliki semisal oleh penemu Skype, orang-orang semacam Steve Jobs, dan mereka yang tergabung dalam kolaborasi project Linux, Apache, Wikipedia, dan semacamnya. Tidak ada imbalan finansial di sana, namun mereka melakukan itu semua untuk membuat suatu arti bagi komunitas hingga dunia, sekecil apapun itu.
Bahwa uang itu adalah motivator yang ampuh, itu betul, namun hanya sampai batas tertentu saja. Dan bekerja melulu karena alasan uang, lama-lama capek juga perasaan ini. Mereka yang jadi terbahagiakan dengan aktivitas mereka, yang mencapai kebesaran dengan kontribusi mereka, yang menjadi istimewa terlepas cibiran orang-orang –awalnya– terhadap diri mereka, adalah mereka yang sejak awal memiliki impian kontributif bagi ‘dunia’, yang menikmati sensasi jadi kian berkembang hingga terus jadi luar biasa, dan yang berinisiatif mengelola capaian baiknya dengan cara-cara kreatif yang dia temukan karena rasa nikmat ketika menjalaninya. … Terkait apa yang saya sampaikan di atas, silahkan sempatkan untuk menonton video ini; sangat-sangat bagus. Minimal yang dari RSA animate berikut; ilustrasinya sangat membantu kita memahami isi. |
| Doa terhadap Pasangan Baru Menikah Posted: 09 Jun 2010 10:06 PM PDT
Seorang relasi penting baru-baru ini melangsungkan pernikahannya. Dan belum cukup menggunakan doa standar yang sudah baik itu, saya menuliskan sebuah doa bagi pasangan baru menikah yang mana itu juga menjadi perenungan bagi diri saya pribadi. Sahabatku, atas pernikahan yang kau jalani ini, semoga seluruh pinta baik yang kau punya dikabulkan oleh-Nya Sang Maha Menyayangi. Semoga diberikan kepada dirimu kemampuan untuk menjadi suami yang teladan, Semoga diberikan kepada istrimu kemampuan untuk menyenangkan suami, Semoga diberikan kepada kalian keturunan yang sehat dan indah fisiknya, mulia dan terpuji akhlaknya, benar dan banyak ibadahnya, lurus dan teguh aqidahnya, yang mampu membahagiakan, menentramkan, dan membanggakan hati kedua orang tuanya, serta menyelamatkan kamu berdua dari siksa kubur dan neraka dengan do’a dan kebaikan jariyyah seluruh keturunanmu itu. Semoga diberikan kepada kalian berdua kelanggengan dalam berumah tangga, semoga dihidayahkan dan dimudahkan kepada hati kalian berdua perasaan saling menyayangi, saling menghormati, dan saling peduli. Semoga kebarokahan Allah yang indah semakin menyertai dirimu berdua. Semoga Allah mudahkan dirimu untuk menjadi kaya! Amin. Selamat berbahagia, selamat merayakan cinta ^_^ |
| You are subscribed to email updates from akhmadGuntar dotcom To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
09:34
Abi






















0 komentar:
Poskan Komentar