Your Ad Here

Selasa, 21 September 2010

akhmadGuntar.com | Stres dan Produktivitas: Teman ataukah Lawan?

akhmadGuntar.com | Stres dan Produktivitas: Teman ataukah Lawan?


Stres dan Produktivitas: Teman ataukah Lawan?

Posted: 20 Sep 2010 03:57 PM PDT

Stres dan Produktivitas: Teman ataukah Lawan?

Matt Buttel di tahun 2009 membuat ilustrasi yang menarik tentang kaitan antara produktivitas dan stres. Di awal tulisannya, dia mengajak kita menerima anggapan bahwa di pagi hari waktu kerja, apa yang karyawan cenderung lakukan adalah membicarakan acara televisi premier di malam kemarinnya. Apapun itu, pokoknya bukanlah aktivitas yang mendatangkan stres. Dari sinilah kemudian pembicaraan tentang stres dan produktivitas bisa dimulai.

Sebagaimana kita ketahui, goal utama dari organisasi adalah menciptakan profit yang se-surplus mungkin. Dalam maksud tersebut, tim manajemen di seluruh dunia merasa perlu untuk merancang lngkungan yang di sana para karyawan bisa bekerja secara sangat produktif. Oleh karenanya, kita lantas bisa definisikan produktivitas sebagai rasio output/input. Dengan kata lain, formulasi produktivitas adalah sebagaimana berikut:

Produktivitas = outputs / inputs (dalam rentang waktu tertentu, di mana aspk kualitas dipertimbangkan)

Stres dan Produktivitas: Teman ataukah Lawan?

Bicara tentang bagaimana stres di tempat kerja bisa pengaruhi produktivitas, ini tentu telah banyak dibahas. Menurut beberapa analis, tiga dari empat orang Amerika menganggap pekerjaan mereka mengundang stres. Terlebih itu, ada yang malah menganggap stres dunia kerja sebagai epidemi global, khususnya di era kriis ekonomi saat ini.

Pastinya, stres merupakan faktor wajar dalam kehidupan manusia -dalam kasus perkuliahan, pernikahan, perceraian, kematian, atau pembelian rumah. Secara umum, sukar bagi para pegawai profesional untuk menghindari stres masuk sebagai bagian dalam kehidupan profesional (dan pribadi) mereka.

Dari formula yang disampaikan di atas, kita jadi bisa membaca pola. Stres, entah yang disebabkan dari pekerjaan ataupun perkara pribadi yang berpengaruh pada stres kerja, selalu saja membuat para pekerja merasa kurang produktif, memadamkan kreativitas dan juga performa puncak.

Stres dan Produktivitas: Teman ataukah Lawan?
(Silahkan klik gambar di atas untuk mendapatkan gambar ukuran besar. Awalnya hendak saya terjemahkan juga, tapi jadinya makan ruang banyak)

Namun bagaimana bila Anda menganggap pekerjaan Anda sebagai hal yang -dalam kebanyakan kasus- bisa dengan mudah saja Anda lakukan.

Bagaimanapun, harus kita terima bahwa stres dan produkvitas berkaitan satu sama lain. Menariknya, tidak lantas stres itu buruk. Anda akan temukan bahwa ketika Anda stres, justru pekerjaan malah bisa lebih tertangani daripada bila Anda tidak sedang stres.

Berdasarkan temuan dari Robert Ostermann, seorang profesor psikologi, stres sebenarnya malah bisa menstimulasi kreativitas dan produktivitas. Dia katakan: "Tak ada yang bisa meraih performa puncak tanpa menjalani stres, entah itu atlit, pekerja kantoran ataukah manajer."

Sehingga pada dasarnya, keterkaitan antara stres dan produktivitas bisa kita manfaatkan dalam mengelola kapabilitas kita dalam merampungkan kerja. Adanya lag atau masa non produktif harus kita cermati betul agar kita bisa terus bertahan dalam kerasnya dunia kerja modern.

Anda bisa membaca tulisan asli dari sini. Credits ada pada Matt Buttel.

Kiat Sukses untuk Masa-masa Awal Sang Karyawan

Posted: 20 Sep 2010 06:46 AM PDT

[Mohon maaf, repost setelah kapan lalu database sempat corrupt tanpa bisa dipulihkan total]

Selamat, Anda telah diterima sebagai karyawan. Sekarang, apa yang bisa dilakukan untuk mengoptimalkan pengalaman saat-saat pertama Anda dalam bekerja?

Kiat Sukses untuk Masa-masa Awal Sang Karyawan

1. Hiduplah di Bawah Standar Ideal Anda

Tahun pertama Anda sebagai orang gajian akan berpengaruh betul pada bagaimana pola pengeluaran Anda. Buatlah keputusan yang sengaja dan sadar untuk bisa miliki pengeluaran yang lebih kecil daripada pemasukan Anda. Kemampuan Anda untuk bisa melakukan ini akan memberikan fleksibilitas dan kuasa untuk mencapai lebih di masa depan nanti. Meskipun Anda bisa membiayai kost seharga satu juta per bulan, tapi cobalah cari yang agak jauh di bawahnya saja (lagipula, jika Anda baru diterima kerja, besar kemungkinan Anda masih bujangan, bukan?). Meskipun untuk perihal yang memang membuat Anda merasa lebih produktif bila didelegasikan (misal menyuci dan menyetrika baju) boleh dan baik saja bila Anda keluarkan uang untuknya.

2. Carilah Kesempatan Belajar di Setiap Pekerjaan dan Tugas-tugas di Dalamnya

Terutama bila Anda memang betul-betul baru mulai bekerja, maka uang biasanya bukanlah jadi yang utama, bukan? Maksud saya, pengalaman pembelajaran harusnya jadi lebih yang terpenting bagi Anda. Dan memang betul, membentuk pengalaman penuh pembelajaran dalam hal pengetahuan, keterampilan dan mentalitas memang jauh lebih berharga untuk kepentingan jangka panjang daripada memperturutkan hasrat untuk mendapatkan sebanyak mungkin uang di awal. Jangan kecil hati manakala Anda bekerja di perusahaan kecil yang struktur dan prosedur kerjanya belum ideal. Malah sebetulnya di sana pembelajaran Anda bisa diikuti dengan sumbangsih nyata kepada perusahaan melalui sumbang gagasan dan turut menjadi agen perubahan.

3. Carilah Setiap Peluang untuk Belajar

Masih terkait dengan yang di atas, sebisa mungkin carilah peluang di mana Anda bisa difasilitasi untuk belajar. Ikutlah beragam program pelatihan yang diadakan oleh perusahaan. Tunjukkan prestasi sedemikian rupa para supervisor bisa melihat potensi Anda, lalu ajukanlah permintaan untuk bisa mengikuti pelatihan di luar perusahaan. Bahkan, Anda juga bisa coba untuk mengajukan program beasiswa untuk pendidikan formal lanjutan. Dan bukan melulu berkisar di pelatihan dan pendidikan formal, Anda juga perlu belajar dari para senior, rekan kerja, dan atasan yang miliki wawasan, keterampilan, dan kebijaksanaan yang lebih dari Anda. Dengan terus memperkaya kesempatan belajar, Anda sesungguhnya sedang memantaskan diri untuk meraih peluang dan tanggung jawab profesional yang lebih besar.

Kiat Sukses untuk Masa-masa Awal Sang Karyawan

4. Bangun Mentalitas Self-Employee dan Entrepreneur

Meskipun posisi Anda adalah sebagai orang yang digaji, namun cobalah untuk memandang diri Anda sebagai self-employee dan entrepreneur yang miliki kesamaan utama dalam hal kemampuannya untuk menggerakkan diri dan mengambil kendali atas masa depan karirnya. Camkan bahwa atasan Anda tidak bisa dipersalahkan atas karir Anda yang buruk. Adalah diri Anda sendiri yang memegang kendali atasnya. Bahkan, sadari juga bahwa meskipun semisal Anda sudah bekerja selama 20 tahunan di suatu perusahaan, masih akan ada kemungkinan diri Anda dipecat dengan hormat karena keputusan-keputusan yang tidak berada di wilayah kuasa Anda. Dengan mengadopsi mentalitas self-employee dan entrepreneur, Anda tidak harus berikrar untuk betul-betul berhenti dari pekerjaan. Apa yang dipentingkan di sini adalah mentalitas kemandirian dalam bergerak, kemampuan untuk memotivasi diri, kemauan untuk menentukan target performa sendiri dan bergerak untuk betul-betul memenuhinya.

5. Bangunlah Jaringan Relasi

Mulai saja dengan yang sederhana: jangan terburu pilih-pilih kenalan, dan ingatlah serta tetaplah jalin hubungan dengan teman-teman di tempat kerja. Cobalah lakukan hal-hal kecil yang meskipun tak bisa rutin dijalankan, yang penting sudah pernah dilakukan: mengirimkan ucapan selamat ulang tahun, ucapan selamat karena anak rekan kerja meraih prestasi tertentu, memberikan kata-kata yg baik di wall facebooknya, apapun itu yang penting bisa membekaskan kebaikan. Targetnya sederhana: Anda harus meninggalkan kesan baik pada siapapun. Dan bicara membangun relasi, pahamilah bahwa ini bukan lantas melulu untuk diri Anda. Apa yang coba dibangun adalah hubungan dua arah yang tidak bertepuk sebelah tangan. Maka coba carilah juag orang-orang yang sekiranya bisa Anda bantu; dan itu merupakan cara yang efektif untuk membangun relasi.

Kiat Sukses untuk Masa-masa Awal Sang Karyawan

6. Bangunlah Kebiasaan Efektif Sejak Dini

Sejak awal Anda memulai karir, belajarlah untuk membangun kebiasaan efektif sejak dini. Bentuknya bisa bermacam-macam: olahraga secara teratur, membaca buku yang berkualitas, beristirahat secara lebih disiplin dalam waktu dan kualitas yang baik, makan asupan yang menyehatkan, dsb. Seluruh pembiasaan yang Anda lakukan sejak awal akan berdampak panjang hingga masa depan karir Anda.

7. Pastikan Anda Betul-betul Menyukai Pekerjaan Anda

Tidak ada pekerjaan yang betul-betul ideal. Untuk pekerjaan yang awalnya Anda begitu idam-idamkan sekalipun, pasti di sana akan ada aspek pekerjaan yang Anda tidak sukai. Maka yang penting di sini adalah belajar untuk menyukai. Mentang-mentang perasaan Anda tak nyaman tidak lantas itu menandakan Anda berada di pekerjaan yang salah, meskipun itu bisa jadi merupakan indikasi. Pahamilah bahwa ketika Anda mengkomitmenkan untuk terus belajar, itu artinya secara konsisten Anda menempatkan diri untuk keluar dari zona nyaman, yang pastinya itu membuat merasa Anda kurang nyaman. Maka belajarlah untuk merasa nyaman dari pengetahuan bahwa Anda senantiasa belajar dan berkembang. Cobalah temukan beberapa aspek dari pekerjaan yang Anda memang betul-betul bisa bagus di sana.

0 komentar:

Poskan Komentar

Oke Time

Archives