akhmadGuntar.com | Kiat Produktivitas #18: Bagaimana Menghadapi Ketidakpastian |
| Kiat Produktivitas #18: Bagaimana Menghadapi Ketidakpastian Posted: 21 Apr 2010 11:58 AM PDT
Tapi ternyata ada banyak ketidakpastian yang memang rawan mengkhawatirkan kita.
Dan tatkala kita berhasil dibuat resah atas ketidakpastian itu, maka di saat itulah laju produktivitas kita jadi terhambat. Maka penting sekali kita berkemampuan untuk menghadapi ketidakpastian ini. Biasanya, apa yang membuat kita resah adalah apa-apa yang belum terjadi, dan apa yang belum/tidak kita miliki. Dan secara umum, kita akan merasa khawatir manakala kita merasa akan ada keburukan, ketidakberuntungan atau apapun bentuk ketidakbahagiaan yang bakal terjadi di masa depan.Kita juga merasa khawatir manakala merasa ada banyak hal yang tampaknya berada di luar kendali kita.
Kunci pertama adalah memfokuskan sumberdaya diri kita pada apa-apa yang masuk dalam rentang kendali dan kuasa kita. Bahwa kita tidak bisa mengendalikan segala faktor yang mempengaruhi masa depan kita -kondisi ekonomi regional, siapa yang terpilih sebagai presiden, bencana ekonomi atau alam,dsb- maka janganlah itu jadi perihal yang kita risaukan.Risaukan saja apa yang bisa kita munculkan dan latih dalam diri kita, yang biasanya berwujud kompetensi, pengetahuan dan mentalitas yang membuat kita siap hadapi apa-apa yang ada di depan nanti.Orang-orang yang bersiap biasanya akan membuat perubahan di masa depan nanti menjadi kurang relevan bagi dirinya. Jangan gunakan ketidakpastian untuk menakut-nakuti diri. Jadikan ketidakpastian sebagai alasan kuat untuk mempersiapkan diri. Dan salah satu cara terbaik untuk mengurangi secara signifikan kadar ketidakpastian di masa depan adalah dengan merancang masa depan kita sendiri dan lalu berikhtiar bersesuaian dengan rencana itu. Maka inilah kunci pertama: dalam menghadapi ketidakpastian, persiapkan diri dengan gunakan segala sumberdaya yang berada dalam rentang kendali kita. Kunci kedua adalah mensyukuri apa-apa yang sudah ada di masa sekarang, dan optimalkan kebaikan darinya. Tak perlu risaukan apa-apa yang tidak kita punyai, karena itu akan melemahkan kita dan membuat kita lupa untuk berbahagia dengan kesyukuran. Jangan lenakan diri kita dengan perandai-andaian tentang apa-apa yang belum kita miliki hingga lupa untuk merasa damai dengan yang sudah ada di hadapan. Hiduplah di masa sekarang, nikmati apa yang ada, dan optimalkan. Tatkala kita betul-betul bisa menghargai apa-apa yang telah Tuhan titipkan saat ini, kita boleh optimis Tuhan akan penuhi janjiNya untuk menambah jumlah dan kualitas titipanNya pada diri kita. Kunci ketiga adalah berfokus pada ikhtiar dan berikhlas pada bagaimana Tuhan berkenan tentukan hasilnya. Kewajiban kita sesungguhnya bukanlah untuk memastikan diri kita ini berhasil. Tugas kita adalah untuk memastikan bahwa diri ini telah berusaha sekeras mungkin dan telah menunjukkan syarat kepantasan yang membuat Tuhan mengijinkan kita berhasil. Jika sudah demikian cara pandangnya, maka kegagalan yang secara wajar membuat diri bersedih pun akan bisa dimaknai dengan baik dan membijakkan diri hingga ke depan nanti.
Pernah mendengar istilah “Jangan takut gagal”? Saya memilih untuk tidak bersepakat dengan itu. Bagi saya, ketakutan akan gagal itu lumrah untuk dirasa. Ketakutan ini adalah emosi yang menuntun diri ini untuk tidak meremehkan suatu tantangan dan kondisi dan menjadikan diri lebih berhati-hati dan bersungguh-sungguh dalam ikhtiar yang keras. Hanya dengan melalui itulah kita kemudian boleh berkata pada diri, “Kalau sudah berhati-hati dan keras berikhtiar masih gagal, maka berarti itu ya perihal terbaik yang Tuhan takdirkan bagi saya.” Maka sesungguhnya yang perlu dilakukan bukanlah untuk menghilangkan rasa takut akan kegagalan, melainkan menumbuhkan kesediaan yang ikhlas dan bernyali tatkala kegagalan sudah ada dihadapan. Dan tak lupa; prasangka yang baik pada Tuhan. Bahwa ketidakpastian di masa depan itu adalah perihal yang pasti, maka dari sinilah harusnya kita sadar betapa kita sangat membutuhkan Tuhan. Maka kunci keempat, yang sesungguhnya mendasari semuanya: sandarkan diri pada Tuhan atas ketidakpastian yang menjelang dan yang akan datang. Kekhawatiran berlebihan atas masa depan seolah merupakan wujud ketidakpercayaan kita pada kemurahan Tuhan. Bolehlah seseorang merasa sangat khawatir dengan masa depannya manakala dia memang bermasalah serius dengan Tuhan. Namun manakala kita telah menjaga ketundukan hati padaNya, manakala kita senantiasa berusaha wujudkan takwa pada diriNya, maka sungguh tidaklah pantas kita merasa khawatir akan takdirNya atas diri kita. Bahwa apapun yang terjadi, itu semua pasti ada untuk suatu kebaikan. Maka dengan pengetahuan bahwa keresahan akan ketidakpastian itu ada dirasa di hati, maka mari kita bermohon pada Dia Yang Memiliki Hati; mengucapkan yang berikut ini dalam do’a kita setiap hari:
Manakala kita sudah bersandar pada Tuhan, maka sungguh pantas kita meyakini yang berikut ini: Sebagaimanapun besarnya ketidakpastian di masa depan kita nanti atau yang segera menjelang, maka kondisi pastinya adalah bahwa kita pasti akan baik-baik saja, bahwa Tuhan akan menjaga dan mengarahkan kita kepada kebaikan sebagaimana yang kita senantiasa minta. |
| Franklin Effect: Agar Disukai, Mintalah Bantuan Posted: 15 Apr 2010 03:54 AM PDT
Cara lainnya? Ada yang memberi anjuran untuk memberikan pujian yang tulus, menyamakan bahasa tubuh, gaya bicara, dan menampakkan diri sebagai pribadi yang rendah hati. Itu semua tampaknya berhasil; namun ada satu cara yang barangkali kita belum menyadarinya.
Prinsip yang unik ini dipopulerkan salah satunya oleh Benjamin Franklin, seorang politisi dari Amerika. Tatkala berusaha meraih persetujuan dan dukungan dari salah seorang dari badan legislatif, dia tidak lantas merendahkan dirinya apalagi menyembah-nyembah. Apa yang dilakukannya sederhana; begitu dia tahu bahwa sang orang dari legislatif ini memiliki koleksi buku yang unik dan langka di perpustakaan pribadinya, maka Franklin pun meminta ijin untuk meminjamnya selama beberapa hari. Dikabulkan. Dan saat pertemuan berikutnya, sang anggota legislatif ini mulai mengajak Franklin bicara -yang mana belum pernah dilakukan sebelumnya, dan juga berbicara dengan nada yang sangat bersahabat. Franklin menyebut resep suksesnya itu dalam perkataan,"Dia yang pernah berbuat baik padamu akan lebih siap untuk berikan kebaikan lagi padamu ketimbang siapapun yang Anda sebetulnya haruskan untuk membantu Anda." Fenomena ini kemudian dikonfirmasi oleh peneliti bernama Jon Jecker dan David Landy pada tahun 1960, dan kemudian juga oleh Jecker dan Landy pada 1969. Mereka melakukan penelitian yang menghasilkan temuan yang sama; bahwa mereka yang telah membantu orang lain secara pribadi –bukan karena disuruh oleh lembaga atau semacamnya- maka akan cenderung menyukai mereka yang ditolongnya itu. Efek ini kemudian disebut sebagai Franklin Effect: untuk membuat orang lain menyukai Anda, mintalah bantuan pada mereka. Mengapa sampai terjadi demikian? Penjelasan sederhananya adalah karena begitu kita memperkenankan diri ini untuk membantu orang lain, maka otak dan psikologis kita akan berusaha membuat pembenaran bahwa apa yang membuat kita menolong adalah karena kita menyukainya. Menarik bukan?
Meskipun demikian, efek semacam ini punya keterbatasan yang perlu diperhatikan; yakni bahwa ini hanya berlaku untuk permintaan bantuan yang sifatnya kecil dan bukannya permintaan yang bisa membuat seseorang tampak enggan, tak rela, apalagi sampai menolaknya. Artinya jangan lantas dengan sembarangan meminta bantuan kepada orang lain dengan maksud agar diri jadi lebih disuka. Permintaan bantuan ini harus didasarkan juga pada pengenalan kita pada sasaran kita. Dalam kasus Franklin, si pejabat legislatif yang meminjamkan bukunya pada Franklin bagaimanapun memiliki perasaan sebagai orang penting dan suka manakala apa yang dia anggap penting –buku langkanya- itu dihargai oleh orang lain. Sehingga boleh dibilang aktivitas meminjam buku ini sebagai suatu bentuk ungkapan memuji. Lantas apa yang bisa kita lakukan? Anda bisa mendayagunakan efek ini dengan meminta orang lain melakukan hal yang kecil untuk diri Anda. Mintalah sesuatu yang itu merupakan kebanggaan bagi sasaran Anda, atau apapun yang membuat dia tampak hebat, keren atau semacamnya tatkala dia melakukan apa yang Anda minta. Dan jika Anda meminjam sesuatu seperti Franklin, jangan lantas segera dikembalikan. Anda juga bisa bersikap waspada akan efek ini, yakni manakala orang lain meminta bantuan kecil kepada Anda, perhatikan bagaimana perubahaan perasaan baik Anda pada dirinya. |
| You are subscribed to email updates from Manajemen Produktivitas & Pengembangan Diri To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
07:05
Abi







0 komentar:
Poskan Komentar